YOU COME UNEXPETEDLY FOR ME – CHAPTER 2

Hembusan angin lembab menyeruak ke dalam hidung ku. Terasa agak dingin di lengan karena kaos olahraga yang ku kenakan berlengan ¼ pendeknya. Aku menyipitkan mata, berusaha agar debu debu yang tertiup angin tidak menganggu penglihatan. Angin agak gelap menandakan sepertinya akan turun hujan. Sesaat setelah sadar, rintikan air dari atas langit berlomba menyentuh puncak kepala ini. Seakan mereka menyuruh anak anak agar segera berteduh karena mereka akan segera mengkeroyok kami habis. Kelas olahraga pun dibubarkan dari lapangan karena hujan telah turun. Ku lihat Chunsa sudah berada disebelah kanan ku. Ia memberiku bola basket.

“Bagaimana, sudah kau cari tahu nama namja yang Seoyul idam idam kan sejak tiga hari yang lalu itu?”, tanya nya.

Aku melihat sesaat pada Chunsa yang tengah bertolak pinggang sambil menunggu jawaban ku. Aku hanya menggeleng padanya. Ia terlihat sedikit kecewa. Mungkin ia lelah. Sama lelahnya dengan kami bertiga yang menghadapi Seoyul seperti orang kesetanan. Seperti anak bocah yang menanti nantikan mainan yang ia inginkan datang padanya. Sudah tiga hari ini sejak malam itu. Aku lah yang paling lelah. Mengapa? Karena sejak hari itu Seoyul main kerumah ku sampai malam.

Sebenarnya disamping itu semua, aku juga mengalami kisah. Kisah itu terjadi disetiap pagi sebelum aku berangkat ke sekolah. Sejak hari itu, aku merasakan sesuatu yang aneh terjadi padaku. Teman teman belum ada yang tahu. Seoyul yang sering main pun belum tahu. Karena memang hanya terjadi di pagi hari.

“Annyeong?”

Aku menuruni tangga buru buru setelah memanggil manggil eomma bahwa ada pelanggan yang sudah tiga kali berturut turut menyahut.

“Maaf maaf, biasanya ibu ku yang melayani, ada yang bisa saya bantu?”
Kata kata ku yang secepat kilat barusan mungkin membuatnya sedikit bingung.

“Bisa tolong bungkuskan soju 3, tteokboki 3, dan… es serutnya satu?”
Aku terkesiap dan mengangguk. Segera ku ambil tiga kaleng soju, ku bungkuskan tiga tteokboki yang masih sangat panas, dan membuatkannya es serut.

“Ingin pakai susu putih atau coklat?”, tanya ku padanya. Ku lihat bola matanya yang besar tengah meneliti setiap sudut kios ini. Itu memberikan kesan menyeramkan padanya. Kemudian bola mata besarnya itu terhenti pada ku yang membuat aku agak tertegun.

“Tidak usah dikasih susu.”

“Oh, baiklah.”
Ia memberiku uang pas dan kemudian melihat ku dengan tatapan datar yang menyeramkan. Karena bola mata yang menatapku itu seperti ingin keluar dari tempatnya.

“Ma..mau dibungkuskan apa lagi?”

“Aku sedang berpikir.”, timpalnya masih dengan tatapan yang sama. Aku memandangnya lebih kepada ingin menakut nakuti orang, bukan berpikir.

Sesaat kemudian, seseorang yang tinggi dari kios seberang sana keluar dari dalam dan menyahut dengan suara superbass.

“Kyungsoo-yah! Belikan bubble gum satu!”

Pelanggan menyeramkan dihadapan ku ini seperti tersadarkan kembali dan baru teringat apa yang ia coba hadirkan dalam pikirannya sedari tadi. “Ya. Bubble gum nya satu.”

 

***

 

“Ya! Kau dipanggil seongsaennim tuh!”

 

Aku sadar aku tengah melamun. Tangan ini sentak terangkat seraya ku sebutkan nama ku lantang. Tetapi ruangan sunyi senyap. Dan aku tersadar kalau ini sedang dalam jam pelajaran, bukan jam absensi. Semua melihat ku bingung.
Seongsaennim yang memutar tubuhnya dari papan tulis, bingung melihat ku berada dalam posisi aneh. “Apa apaan, Eunah?”Hanya seseorang yang tertawa. Chunsa menertawaiku dari belakang.

“Duduk dan perhatikan!”, perintah seongsaennim.
Aku kembali duduk. Chunsa masih menertawaiku. Aku memutarkan badan kearahnya dan menggeplak kepalanya.

 

***

 

Kami berjalan berbarengan menyusuri lapangan sekolah menuju gerbang depan untuk pulang. Suara gelakan tawa bersama dengan bunyi dentang jam sekolah membuat aku termenung akan sesuatu.

“Sebentar lagi kita lulus.”, sergah ku yang membuat semuanya diam bertanya tanya.

“Terus?”, lirik Hyora.

Aku melihat kebawah hidung ku. “Gapapa sih. Cuma masih aja jomblo.”

 

“Alah…”. Semuanya mentoyol jidat ku bergantian. Aku merasa seperti sedang dibully.

 

“Pernyataan jomblo itu sensitif untuk pertemanan kita.”

“Tidak usah juga bahas bahas soal namja. Apa kalian tidak ingat ketika Hyora dan Eunah memperebutkan namja yang sama? Merepotkan. Untung pertemanan kita kuat, nah kalau tidak…”

Aku memiringkan senyum. Hyora mencibir. Waktu itu kami sama sekali masih setengah matang kalau bisa dibilang. Memperebutkan 1 namja yang sama diwaktu yang sama pula. Tetapi pada akhirnya kami memutuskan untuk lebih memilih berteman lagi dan entah, saat itu terasa semuanya baik baik saja. Tidak salah satupun dari kami merasa galau.

 

Hari ini Seoyul kembali menginap. Aku rasa dia belum menyerah untuk mendapatkan informasi tentang namja yang tempo hari naik bus umum itu.
Kami mencoba untuk bersantai ria dengan suapan penuh kue ikan pedas yang dimasak oleh ibu ku.

“Ya, seoyul-ah, apa ibu mu tidak mencari mu?”, tanya ku angkat bicara.

“Aku sudah bilang bahwa aku punya misi. Namja Mission. Dan ibu ku menyetujui nya.”

“Neoye appa?”

“Gwenchana. Dia selalu sibuk dengan perusahaannya, jadi ya-“

Aku mengangguk mengerti, dan Seoyul pun berhenti menjawab sambil kemudian menyuapkan kue ikan kedalam mulut kecilnya.
Aku teringat kalau teman ku yang satu ini adalah orang dari keluarga berada. Tidak seperti aku yang dhuafa ini. Maksudku, ia jauh lebih baik dari ku.

“Kenapa kau memperhatikan bibir ku?!” Seoyul tiba tiba bicara.

Aku melamun rupanya. Ah, aku hanya berpikir bibir tipis kecil itu sangat mirip dengan seorang pembeli kemarin sore.

“Ah tidak, aku melihat ke dagu mu.” Jawab ku klise.

“Ih, kau sedang sarap ya. Jangan jadikan aku bahan pikiran melayang mu, Eunah.”

Aku mengangkat sebelah bibir depan ku.
“Tidak nafsu. Aku suka namja yang-“

“Permisi. Ingin beli kue ikan seperti yang kalian makan, 3 bungkus?”

Ah, suara ini. Pasti anak laki – laki yang suka melotot itu.

Aku membalikkan badan. Bukan.

Ia adalah pembeli yang mempunyai bibir tipis dan kecil itu.

“Oh- ya sebentar ku ambilkan. Ada lagi yang ingin sekaligus dibeli?”

Ia menatap ku. “Ya. 2 soju tolong.”

“Eng, baik. Seoyul-ah, ambilkan soju dikul-“

Aku baru sadar Seoyul sedang terpaku di bangku nya.

“Seo?” Panggil ku pelan.

“Ah ya, sebentar ku ambilkan.”

Aku meneliti gerak gerik kaku yang Seoyul peragakan dihadapan ku. Ia bergegas ke pintu kulkas dan kembali dengan dua kaleng soju.

Keheningan menyeruak sesaat sebelum Seoyul akhirnya memberikan kaleng kaleng itu kepada si pembeli.

 

Kembali hening.

 

“Ah, aku mau yang tidak dingin. Maaf aku lupa menyebutkan-“
Seoyul bergegas ke rak minuman dan mengambilkan dua kaleng yang tidak dingin.

Seoyul kembali dan memberikannya lagi. Kemudian kembali hening.

Ia terlihat berkeringat.

“Kau yang tinggal dirumah depan ya?” Seoyul angkat bicara dengan suaranya yang mecoba seperti gugup tetapi tegar.

Wölfe Wald – CHAPTER 1

Image

Wölfe Wald

WHO AM I?

Nama ku Kai. Aku seorang pengelana dengan hidup seadanya. Aku lahir di negara Growlora dimana siapapun tidak pernah menemukan letaknya. Aku masih belum faham mengapa mereka mengatakan demikian. Semua orang yang pernah ku temui, mereka semua selalu mendapatkan pertanyaan yang sama, yaitu, dimana negara Growlora. Begitu juga dengan jawaban mereka. Semua menggeleng dan bahkan menganggap bahwa aku gila.

Aku mempercayai bahwa negara itu benar benar ada karena Sura, seorang kakek berumur 184 tahun yang menemukan ku dibawah pohon sebuah hutan saat aku masih dibalut dengan kain putih yang meninggalkan lubang untuk menunjukkan wajah ku. Ia mengira aku adalah sebalok roti, dan ternyata adalah seorang bayi. Ia lalu membawa ku pulang ke rumah dan merawat ku hingga usia ku 16 tahun. Setelah akhirnya ia meninggalkan ku seorang lagi dibawah atap rumah yang menjadi satu satunya harta yang dimiliki nya.

Sura memberitahu ku, satu satunya petunjuk siapa diriku hanyalah sebuah kertas bertuliskan,

Wölfe Wald, Growlora.

Kemudian Sura menamaiku Kai. Entah apa yang membuat Sura nyaman dengan panggilannya itu. Ia menjelaskan, kalau Wolfe itu terlalu sulit untuk sebuah nama panggilan. Wald-pun tidak terlalu bagus untuk panggilang seorang perkasa seperti ku. Meski telah ku jelaskan padanya berulang kali bahwa aku bukanlah seorang perkasa.

“Kau tidak boleh menolak anggapan hebat dari seseorang, nak. Karena mungkin saja itu benar benar terjadi pada mu.”

Hanya itu yang pernah Sura ucapkan pada ku. Selebihnya ia hanya menggunakan bahasa tubuh dan isyarat saja.

Setelah ditinggalkan oleh Sura diumurnya yang ke 200 tahun, aku tidak lagi memiliki pekerjaan tetap. Karena selama ini aku hanya membantu Sura seorang. Aku melakukan apa saja untuknya. Penjual, menjadi pengrajin, tukang las kereta kecil, pengasuh, koki, penyemir, pencuci pakaian, dan lain lain sebagaimana yang biasa semua orang lakukan untuk menyambung hidup mereka.

Diumurku yang ke-20 tahun ini, aku hanya terus berkelana menyusurui berbagai negara. Tidak jarang aku keluar masuk penjara karena mencuri makanan. Beberapa penjaga penjara sempat meneliti ku dan menanyakan dari mana asal ku.

“Aku.. dari Brinstoin.”

Sebagian dari mereka mengetahui bahwa negara tersebut merupakan negara yang miskin dan kebanyakan penduduknya tidak bisa bertahan hidup hingga usia mereka 30 tahun.

“Negara bobrok! Tetapi mereka terus saja membuat anak.. Kasihan sekali. Mereka meninggalkan anak anak mereka untuk membuat anak anak mereka lagi dan meninggalkannya lagi… Terus saja seperti itu, hahaha, benar kan?”

Aku tidak begitu marah dan mempedulikan ejekan sebagian orang menyangkut apa yang terjadi di negara Brinstoin. Aku hanya merasa bukanlah penduduk lokal sana. Aku hanya menumpang. Negara asli ku adalah Growlora. Tetapi terkadang aku tidak terlalu memikirkan darimana aku berasal. Perut lapar lah yang membawaku terus berkelana. Pencaharian jati diri dan asal ku hanya lah pekerjaan kedua.

“Tapi, kau mempunyai badan bagus dan sepertinya sehat. Tinggi badan mu juga cocok untuk didandani seperti seorang perkasa. Tapi.. seorang perkasa tidak mencuri kan? Aku heran, apa jangan jangan kau tumbuh gagah karena selalu mencuri? Hahahaha…”

“…..”

“Hey, Aku yakin kau bukan orang Brinstoin. Dari mana sebenarnya diri mu?”

Sudah 3 prajurit menanyaiku pertanyaan yang sama persis. Bahkan kalimatnya nyaris mendekati sama. Hanya suara nya saja yang berganti. Dan aku pun menanyai hal yang sama pada diri ku, mengapa orang orang ini dapat membedakan hanya dengan melihat dari fisik ku?

“Seseorang memberitahu ku, bahwa aku lahir di negara Growlora..”

Kebanyakan mereka, setelah mendengar jawaban ku, langsung mengerutkan dahi nya.

“Growl- apa?”

“Growlora.”

“Haha kau mengarang ya? Aku tidak pernah mendengar nama negara seperti itu.”

Dan jawaban ini sudah 3 kali di deklarasi kan oleh 3 orang yang berbeda. Jawaban yang sama seperti jawaban jawaban yang ku temui sejauh ini.

“Apa yang membawa mu sampai sejauh ini dari Brinstoin, boy?”

“Untuk membuktikan kalau karangan yang kau sebutkan tadi itu, ada.”

Dan kebanyakan dari mereka tertawa remeh tepat sesudah mereka mendengarkan pernyataan ku.

***

Seringkali sehabis keluar masuk tahanan, aku di rekrut penduduk menjadi pembantu dalam rumah mereka. Ada saja permintaan yang mereka minta padaku untuk dikerjakan. Dari mulai memasakkan menu makanan, mencuci kan pakaian pakaian, memandikan hewan ternak, mengasuh bayi bayi mereka, hingga yang terkonyol adalah pura pura menjadi pasangan mereka dalam suatu pesta dan menjadi pasangan wanita wanita untuk membuat patah hati para pria yang tidak mereka inginkan dalam kehidupan mereka.

Hal hal aneh juga tidak jarang terjadi dalam perjalanan kelana ini. Aku sering menemukan para prajurit yang menyukai sesama jenis, dan mereka menyukai ku. Hal itu karena mereka terlalu lama berperang dan terlalu lama tidak bersama dengan sosok wanita.  Seorang putri pernah menyatakan kalau dia hanya menginginkan aku sebagai pendamping hidupnya meski sudah ku paparkan berulang kali bahwa aku ini seorang pengelana dan tidak untuk dijadikan suami siapa siapa.

Aku akan memberi mu istana!

Aku menggeleng.

“Semua makanan enak dan lezat yang belum pernah kau rasakan?”

“Aku bisa memasak untuk diri ku sendiri dan itu sudah lebih dari cukup.”

“Ermmm… Aku akan memberikan apapun untuk mu! Bahkan yang terbalut dibalik gaun ku ini, aku yakin kau tidak akan menyesal dengan itu, Kai!”

Aku menggeleng lagi. “Tidak terima kasih, tuan putri Tiyun. Kau cantik. Dan aku sama sekali tidak pantas untuk mu. Semoga negara mu selalu tetap indah karena mereka punya tuan putri seperti mu. Aku pergi.”

Untungnya dia memang baik. Tidak jarang mereka mengirimkan prajurit prajurit mereka untuk mengejar dan menyiksa ku atas permintaan mereka yang selalu ku tolak.

Dan pada suatu hari, aku bertemu dengan seorang nenek misterius di dekat sebuah hamparan ilalang diwaktu hari mulai senja dan gelap. Ku anggap ia misterius karena aku menemukannya di tengah ilalang dan sepertinya ia tau arahnya pulang. Aku heran, karena ilalang ini cukup besar dan luas untuk seorang nenek tua yang bahkan sudah sulit memapah dirinya sendiri.

Dan aku sudah terlanjur mengantarnya hingga ke dalam rumah nya. Kesan pertama kali adalah, ia tinggal seorang diri. Ia sempat mengingatkan ku akan Sura.

“Apa kau ingin minum air?”

Ia mengangguk dan menunjukkan tempat dimana ada air. Aku bergegas mengambil sebuah gelas dan menuangkan air yang keluar dari sebuah ceret perak berkarat.

Aku memberikan gelas tersebut. Ia tidak menerimanya dan hanya melambaikan satu tangannya.

“Untuk mu, nak.”

Aku menatapnya ragu sebelum akhirnya aku kembali ke gelas yang ada ditangan ku dan hendak ku teguk. Ketika ku dekatkan ujung bibir ku ketepi gelas, aku melihat sebuah tanda perak di dalam air. Bersinar di mata ku. Sesaat aku berpikir mungkin hanya sebuah logo gelas atau apa. Tetapi yang satu ini bersinar.

Aku meneguk seluruh air yang ada didalam gelas sampai habis tak tersisa.

Aku kembali menatap kedalam gelas tersebut dan tidak menemukan apapun. Tanda bersinar itu telah hilang disana. Aku meyakinkan mata ku bahwa tanda itu masih disana tetapi tetap tidak kelihatan apapun. Kali ini aku menatap nenek tua yang ada disamping ku terduduk.

 Aku ragu ingin bertanya, tetapi rasa penasaran tidak bisa ku bendung sekarang. Kejadian ini terlalu aneh bagi ku.

“Kau.. Ah, tidak. Nenek, siapa yang membuat gelas ini?”

Nenek tersebut hanya menatap ku.

“Eng, tadi aku melihat sesuatu dalam gelas ini. Sebuah tanda- oh kurang lebih seperti sebuah logo, dan itu bersinar! Lalu setelah ku tegak habis airnya, logo nya hi –“

“Growlora.”

“Maaf?”

“Yang kau lihat barusan adalah lambang negara Growlora, nak.”

“Apa katamu?”

***

PS : Have a good day always, BINARAGAS! ^^

Fucking Miserable Yeoja – CHAPTER 1

Ada beberapa jenis manusia di dunia ini. Kalau boleh dikerucutkan, jenis – jenisnya adalah mereka yang jahat dan yang baik. Manusia yang “jahat” dibagi lagi menjadi ada yang suka membohongi, mengkhianati, meninggalkan. Begitu pula dengan manusia yang “baik” dibagi lagi menjadi ada yang membantu, berkata jujur, dan setia. Tetapi tidak untuk perspektif yang Go Ana pikirkan. Ia mengatakan hal yang lebih simpel lagi, untuk yang jahat, mereka – mereka lah yang terlihat hanya bersenang – senang setiap waktu. Untuk yang baik, mereka – mereka lah yang selalu akan merasa sedih pada akhirnya.

Hal itu benar. Tetapi perspektif tersebut mulai hilang seiring pertemuannya dengan seorang namja, Kim Jongin.

*****

 “Hey! Mau jalan?”

Seseorang yang ditanya tidak mengangguk. Tidak juga menoleh. Sibuk dengan bacaan dihadapannya.

Suasana perpustakaan yang sepi dan tidak banyak pengunjung setiap harinya, kecuali ada tugas kelas, memberi kesan membosankan bagi rata – rata anak di sekolahan ini. Tetapi lagi lagi tidak bagi Ana. Ia gemar sekali menolak orang – orang yang mengajaknya bicara, ketika pembicaraan tersebut tidak berbobot. Penolakkan tersebut salah satunya adalah dengan membaca buku di perpustakaan ini.

“Ck, muka mu kusam Ana. Ayolah sekali kali ikut kami hang out…”

Yang di ajak tidak pernah memperdulikan perkataan apapun yang keluar dari orang ini.

“Heol, kau seharusnya melihatku ketika ku berbicara…”

Ana mendongak. Melihat seperti yang diinginkan lawan bicaranya.

Seseorang tersebut tersenyum. “Kajja? Jebal, Ana-ya..”

“Andwae. Aku sibuk, maaf. Pergi saja dengan mereka, Gaeun-ah.”

“YA!! Mau sampai kapan kau menolakku?!”

“Gaeun-ah, perkataan mu seperti seseorang yang sedang menyatakan cinta saja. Geli ah.”

Ana berdiri dari tempat duduk sambil menutup bukunya dan pergi meninggalkan yeoja kurus mungil bernama Han Gaeun.

“Masih ingin berteman tidak, sih?”

Kalimat barusan membuat langkah Ana terhenti sesaat. Kemudian ia berjalan pergi.

*****

“Semester telah berakhir, dan akan ada pergantian kelas. Tetapi bagi kalian kelas 3… yya yaa.. Coba kalian bisa tidak sih tenang dulu 3.2?”

“Ada yang kecelakaan? Siapa?”

Ramainya kelas menjelang kepulangan siang ini bukan tanpa sebab. Seluruh murid ramai membicarakan seseorang yang mengalami kecelakaan.

“Tenang dulu yeodeul-ah.. Saya baru mau beritahu. Murid 3.1 ada yang mengalami kecelakaan tadi pagi..”

“Kenapa ssaenim?”

“Kok bisa sih?”

“Hahhh… Ada yang bilang karena menolong seorang ibu ibu dijalan..”

“Hah?”

Sebagian yang mendengar bereaksi bingung, dan sebagian ada yang menahan tawa.

“Aneh – aneh saja… Dikira kecelakaan kenapa.”

Ana yang menyimak, menggelengkan kepalanya sesaat ketika mendengar alasan kenapa anak tersebut mengalami kecelakaan.

Ia mencuri dengar obrolan teman disampingnya yang kelihatannya tau jelas tentang kejadian yang sempat menggemparkan seangkatan kelas 3.

“Katanya sih kalau tidak salah, namja itu kebut – kebutan pakai dua motor gara – gara ngebonceng seorang ibu – ibu. Tidak mengerti lebih jelasnya sih. Yang jelas, dia pura – pura ketabrak agar orang ramai dan supaya orang – orang yang ngejar dia tidak jadi ngejar..”

“Segitunya banget. Ada – ada saja. Tapi yang ku dengar, anak ini si misterius itu kan? Si Jongin itu kan?”

“Haha, iya.”

“Ganteng sih. Cuma kalau aneh begitu siapa juga yang suka, huh.”

“Hey, itu yang menjadi nilai nya. Aku tau kau memang tidak suka namja yang misterius.”

“Ahaha iya sih.. Memangnya kau suka dia?”

“Terlalu banyak yang menyukainya. Terbilang bad boy. Sepertinya gonta ganti yeoja. Mungkin juga sudah dipakainya..”

“Ah, kau yakin?”

“Tampangnya menyiratkan begitu. Habis, selalu masuk kelas dengan muka lemas dan rambut yang acak – acakkan, sepertinya habis melakukan-“

“Ah sudah sudah. Nanti jadi ke arah situ obrolan kita hahaha…”

Pembicaraan panjang itu membuat perut Ana melilit. Ia baru saja mendengar pembicaraan yang tidak berbobot. Sekaligus pembicaraan yang ia dengar sampai habis. Ana menggendong tas nya lalu pulang tanpa basa basi.

*****

Ana masuk ke dalam sebuah kamar yang entah kenapa selalu dimatikan lampunya. Cahaya kamar satu – satunya hanyalah dari layar laptop dan lampu akuarium. Tetapi dengan sedikit cahaya tersebut justru membuatnya kalam. Terlebih lagi pemilik kamar juga tidak keberatan.

“Ya, jangan tumpahkan sisa keripik mu diatas kasur ku, aro?”

“Arayo, kyungsoo-ya.”

“Hhh, kapan kau bisa mulai memanggil ku dengan embel – embel oppa?”

“Kita lahir samaan juga kok.”

“Tahunnya. Tetapi aku lahir pada awal tahun, dan kau di akhirnya. Tetap saja aku lebih tua!”

“Terserah. Yang penting tahunnya tetap sama, titik.”

“Haish. Yasudah keluar kau sana.”

“Kenapa? Ada tontonan baru?”

“Tidak juga sih..”

“Aku sudah cek kok tadi sore apa yang ada di tas mu. Tentu aneh kau menyewa film dengan cover Harry Potter. Bahkan series nya sudah lama tamat. Itu pasti video-“

“AAA!!! KENAPA KAU SELALU MAU TAHU URUSAN ORANG?!”

“Tidak juga. Aku hanya cek saja. Justru aku bersyukur kau tidak membawa alat alat aneh dalam tas mu kerumah.”

“Mwo? Maksud mu?”

“Aku takut kau merencanakan pembunuhan pada ku dan eomma.”

“What!? Hahaha, terlalu banyak menonton film! Tetapi mungkin saja terjadi. Jika kau tidak kunjung memanggil ku oppa.”

Ana memutarkan bola matanya. “Terserah. Aku sempat berpikir kau akan jahat pada ku ketika appa mu menikahi eomma ku, kyungsoo-ya. Karena kau namja.”

“Ahaha aku ini lembut. Dan kau tau itu Ana-ya. Kau tahu bahwa aku sangaaat menyayangi mu?”

“Menggelikan.”

“Well, karena kau mempunyai paras cantik dan aneh, maka dari itu..”

“Oh sudahlah jangan lagi. Aku benar – benar mual. Kita ini sudah saudara loh.”

“Tidak sedarah. Tidak ada sangkut paut keluarga. Mungkin saja kita bisa menikah.”

Ana menyemburkan kripik yang tengah dikunyah nya.

“ANDWAE! Sudah kubilang jangan menumpahkan kripik diatas kasur ku!! Aaarggh, haissh…”

“Mianhaeyo. Sudah kubilang aku mual. Kalau bicara seperti itu lagi, aku akan terus menyemburkan kripik kripik ku diseluruh kamar mu.”

Kyungsoo menggeleng kesal.

“Bercanda juga. Aku menyayangi mu karena aku oppa mu. Sudah lama ingin punya adik tapi tidak diberi juga. Jadi pas bertemu-“

“Aku tau. Nah, balik lagi ke masalah video, haruskah kita menontonnya berdua, Go Kyungsoo?”

“Shirreoyo, Go Ana. Menonton seperti itu harus sendiri.”

“Kenapa? Kau malu? Kau juga menganggap ku tomboy.”

“Memang. Tetapi namja melakukan sesuatu selagi nonton seperti itu.”

“Melakukan apa memangnya?”

“Hah, ternyata benar ya kau itu tidak punya teman? Hal  umum seperti ini saja belum tahu.”

“Iya apa? Kalau itu hal umum, beritahu saja, susah sekali.”

“Ya–  umum-yang-private. Kotor lebih tepatnya.”

“Apa itu yang kotor?”

“YA!! BANYAK TANYA! Keluar dari kamar ku!!”

*****

Matahari belum terlalu menampakkan rupanya. Dan bisa dibilang pagi ini masih terlalu pagi untuk seorang murid yang umumnya masih melingkar di dalam selimut mereka. Tetapi lagi lagi tidak bagi keluarga Ana. Semenjak ibunya menikah lagi dengan ayah Kyungsoo, hidup mereka semakin mendekati perfeksionis. Dan Ana menyukai itu.

“Aku berangkat!”

“Ana-ya, roti mu.”

“Nde, oppa. Sini berikan pada ku.”

“Tadi bilang apa?”, tanya Kyungsoo seraya memberikan bekal kepada Ana.

“Duluan ya!”

 

Seperti ekspektasi, sekolah masih belum ada muridnya. Bahkan penjaga sekolah belum standby di sebelah gerbang. Dan seringkali Ana membuat heran penjaga sekolah karena tidak ada gunanya datang terlalu pagi. Ia bilang, penunggu sekolah pun belum siap pergi terlalu awal. Ana, mau ditakuti seperti apa juga ia tidak peduli. Menurutnya, hantu itu tidak akan menyakiti manusia. Jadi tidak perlu ditakuti.

Dan siapa bilang datang terlalu awal tidak ada gunanya?

Pernah suatu hari teman sekelasnya hampir membuli Ana dengan mengotori meja Ana dengan buku – buku dan kertas – kertas yang tidak terpakai. Bilangnya sih bangku miliknya seperti tidak berpenghuni. Dan Ana menganggap hal tersebut sebagai dirinya sedang di buli. Meski itu lagi – lagi hanya perspektif nya saja. Itu semua terjadi sejak Ana memutuskan untuk tidak terlalu bergaul dan pada akhirnya tidak punya teman. Maka dari itu ia datang duluan agar tidak ada berani macam – macam dengan properti sekolahnya.

Disamping itu, pemandangan pagi dari lantai 3 disekolah ini cukup membuat dirinya terkesima. Entah sekolahnya ini terletak di kordinat mana, karena luas halaman belakang dengan paduan daun – daun pepohonannya yang berguguran, membuat latar untuk matahari yang terbit menjadi begitu indah.

Sesekali, Ana belajar di perpustakaan yang tidak tahu dapat izin dari mana, ia ber hak memegang salinan kunci perpustakaan. Tetapi pagi ini ia memilih duduk dan melihat pemandangan indah dari jendela di sampingnya hingga bel masuk nanti.

Tuk.

Ana tersentak dari lamunannya. Seseorang barusan menyetuk bahunya dengan 1 jari.

“Ada bangku kosong?”

Ana mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang tiba – tiba saja mengagetkannya. Entah sinar terang dari mana, tetapi wajah seseorang itu tertutup sinar tersebut yang membuat Ana makin mengamatinya lekat. Mata Ana mengerjap. Dalam kerjapannya, seseorang ini melangkah mundur agar Ana bisa melihatnya jelas.

“Annyeong. Kim jongin, salam kenal. Erh, ada bangku kosong lagi?”

YOU COME UNEXPECTEDLY FOR ME – CHAPTER 1

Pukul 7.00 pas. Aku tau ini bukan waktu yang tepat untuk pergi sekolah karena kelas sudah dimulai. Harus alasan apa lagi? Alarm ku rusak, seongsaenim.

Aku menutup pintu terburu-buru. Aku bersiap untuk berlari tetapi ada seseorang yang menganggetkan ku tepat dihadapan ku.

“Aku ini tetangga mu. Aku tinggal tepat didepan mu. Apa kau tak mau membantu ku, gadis muda?”, ucap seorang nenek agak aneh padaku. Ia menunjuk 2 box besar berwarna biru yang ada disampingnya tergeletak dijalan. Aku menunjuk diriku sendiri dan ia mengangguk.

Oh, aku tau dia. Seseorang yang baru pindah tadi malam. Sepertinya akan menjadi pesaing kios kami. Tapi ku lihat, ia hanya menjual ikan segar. Sepertinya juga bawel.

“Tapi aku bakal terlambat halmeoni kalau mengangkat ikan-ikan mu itu kedalam…”, kata ku sambil berlari ditempat.

“Oh ayolaah, akan ku beri kau cucu ku nantinya, cepat bantu aku, angkat dua box ini saja ayolah…”

Dia mulai ngelantur. Aku takut ia sebentar lagi mengeluarkan kata-kata pamungkas yang akan sulit ditolak kita para remaja muda.

“Aku sudah tua, cucu cucu ku tidak disini, mereka semua sibuk. Aku pikir kau ini baik hati, melihat nenek tua renta ini saja tidak kasihan sama sekali, ah sudahlah.”

Tuh kan ia benar-benar mengeluarkannya. Kalau sudah dinilai tidak baik, aku tidak bisa tinggal diam.

“Baiklah halmeoni, aku bantu ya…”

“Nah, itu baru bagus gadis muda.. Nanti ku pertemukan kau dengan cucu cucu ku ya… Mereka seumuran mu hehehe..”

Nenek ini bicara apa sih. Dari tadi aku sama sekali tidak mengerti apa yang ia katakan. Aku melihat 2 box basah yang aku tau, didalamnya terdapat ikan ikan segar yang amis.

“Ya halmeoni, aku sudah rapih begini masa harus mengangkat box basah seperti ini? Nanti aku jadi lusuh lagi dong.,..”

“Ah sudahlah kau bawel sekali. Angkat saja ayo….”

Nenek dengan kasar mendorong ku agar segera mengangkat box box itu. Aku mengangkatnya dengan asal. Dia berbicara seolah dia tidak bawel. Nenek ini sungguh menyebalkan. Semoga ia tidak selalu merepotkan ku begini.

“Ah gomawo yo, gadis muda.”

“Aku bukan gadis muda. Nama ku Eunah. Go Eunah. Ara?”

“Oh begitu. Walaupun kau menyebutkannya juga pasti aku akan lupa hehehe. Sudahlah kau pergi kesekolah saja sekarang. Bukankah kau tadi sedang terlambat?”

Aku baru sadar kalau ini sudah telat sekali. Pukul 7.15!

                                                                        ***

“Alarm ku rusak, seongsaenim.”

Aku mendengar seluruh kelas menahan tawa. Ku lihat raut wajah seongsaenim yang menandakan ada hal buruk yang akan menimpa ku setelah ini.

“Sudah duduk saja. Temui saya sehabis kelas.”

Aku menghembuskan nafas dan melanjutkan langkah ke tempat duduk. Aku menjatuhkan badan ku dibangku dan membuka resleting tas dengan perasaan malas.

“Mana mungkin seongsaenim percaya kalau alarm mu rusak.”

“Ah aku tidak punya alasan lain lagi.”

“Kalau gitu pikirkan alasan lain. Misalnya kau baru saja tertabrak..”

“Enak saja. Aku tidak mau alasan seperti itu. Kalau kejadian bagaimana?”

”Ya tertabrak apa dulu. Misalkan tertabrak pria tampan seperti woo bin atau joong ki gitu.”

“Terserah padamu saja, Chunsa.”. Ia tertawa sementara aku masih bingung dengan apa yang akan seongsaenim katakan. Aku tau aku ini sering telat. Oleh sebab itu aku takut hukuman kali ini akan berat.

“Hei Eunah, nanti kami main kerumah mu ya. Seoyul, Taerin, dan Hyora juga akan ikut.”

“Silahkan. Oya, nanti aku mau cerita sesuatu.”

 

Aku menyeret pelan pintu salah satu ruangan sakral disekolah ini, yaitu ruang guru. Aku melangkah kearah kiri menuju meja yang paling dekat jendela. Ku lihat Kang Gisuk songsaenim sudah duduk berhadapan dengan seorang murid namja. Aku mendekati mereka.

“Sudah kelas tiga!”, seru kang seongsaenim sambil membanting buku besarnya ke meja. Aku meneliti wajah marah seongsaenim yang sudah menjadi makanan sehari-hari ku, lalu aku melirik kearah namja yang sedang dimarahi.

“Minseok?”

Orang yang ku panggil menengok datar. Seongsaenim menyadari kehadiran ku. Badannya berputar sedikit kearah ku.

“Ah kau juga, Go Eunah! Mau jadi murid yang lulus sia-sia, oh? Selalu datang terlambat. Ku dengar kau ini tidak disiplin dalam bangun tidur, mau itu pagi atau malam! Mau jadi anak seperti apa setelah lulus nanti? Apa kau pikir bahwa dunia selanjutnya akan lebih memanjakan mu nanti, oh?”

Aku tertunduk kebawah sambil melihat-lihat sepatu ku, seongsaenim dan, minseok.

“Bukankah ini merek eager terbaru?”

Kang songsaenim terlihat bingung. Minseok melirikku.

“Kang songsaenim, anda beli sepatu ini dimana?”

“Oh, aku membelinya kemarin di hongkong –“

“Hem berarti tidak asli ya? KW berapa seongsanim?”

“Ini KW super sih. Aku menemukannya dijalan orchid town –“

“Oh beli di Singapore atau Hongkong? Tapi dua-duanya sama sama bagus sih..”

“Yah, Singapore sih.. O! Ya, eunah! Sudah merasa tidak bersalah, malah mengajakku bicara! Akan ku kirim surat untuk orang tua mu!”

“Oh, ayah ku itu suka mengoleksi sepatu. Seongsaenim bisa juga datang ke rumah jika ingin melihat-lihat koleksi sepatunya. Ayahku itu loyal, bisa saja ia memberi mu satu…”

“Jinjja?? Ah, baiklah aku akan main kerumah!”

“Iya gitu aja seongsanim. Jadi, aku boleh pulang ya. Annyeong, seongsaenim.”

Aku melangkah pergi meninggalkan seongsaenim diikuti minseok yang juga membungkuk lalu pergi meninggalkan seongsaenim tua itu dalam kebingungan.

“Kok bisa sih?”. Aku melirik minseok yang sekarang sudah berjalan disampingku. Aku menyeringai.

“Pakai otak makanya.”

“Bukan itu. Apa benar ayah mu mengoleksi sepatu bermerek?”

“Kenapa memangnya? Kau pikir orang pasar seperti kami tidak bisa beli, begitu?”

“Tidak, bukan. Aku juga penggemar sepatu. Apa bisa main kerumah mu?”

“Bagaimana ya, tadi itu aku bohong juga sih. Malas saja lama-lama diruang guru dan dimarahi.”

“Halah, ku pikir sungguhan.”. Aku menyeringai lagi. “Nanti kalau dia benar benar main kerumah mu dan kau membohongi dia seperti itu, bagaimana?”

“Tidak apa, aku memang ingin seongsaenim kerumah ku. Aku akan bisa beralasan lebih ketimbang disekolah. Entah tempat ini membuatku buntu.”

“Oh.”. Minseok tidak terlihat bersimpati. Aku melirik padanya.

“Aku juga tidak tau kau seorang penggemar sepatu. Sebenarnya, aku yang mengoleksi mereka semua. Tetapi kalau aku bilang aku yang koleksi, seongsaenim tidak akan membiarkan aku. Lain hal jika ku bilang ayah ku lah yang mengoleksi, mengerti kan maksud ku?”. Tanpa sadar kami sudah dikelas dan hanya terdapat satu tas saja yaitu milikku.

“Begitu. Berarti kau punya koleksi sepatu?”. Aku berhenti didepannya dan mengambil tas.

“Datang saja kalau mau. Rumah ku di kios pasar Gwang-ju.”

                                                                        ***

Kuah merah kental yang panas meletup letup terebus diatas nampan perak panas. Orang-orang menyuapkan sesuap demi suap tteokboki kedalam mulut mereka. Pasar Gwang-ju tidak pernah mati meski malam telah larut. Banyak yang masih berkeliaran hanya sekedar membeli soju atau mencari jajanan malam. Aku bersyukur karena selain ada siang, lalu datang malam. Ketika kios kami hanya mendapatkan pelanggan sedikit disiang hari, malam hari kami lah yang paling ke banjiran pelanggan.

Taerin menuangkan segelas Sevenup ke dalam gelas dan meminumnya. Ia bertahak kencang. Ibu ku memarahi kelakuannya yang tidak pernah berubah sejak kami smp. Taerin tidak cocok berulah, ia lebih baik menjadi anak pendiam. Tetapi karena orang tua Taerin meninggalkannya sejak kecil karena bangkrut, akhirnya ia diasuh oleh halmeoni nya yang keras sampai sekarang. Dan jadilah ia seperti ini.

“Ya, Hyora-ah! Kau hari ini juara 1 basket putri sekecamatan bukan? Traktir kami dong~”

Hyora adalah teman kami satu satunya yang mahir dalam bidang olahraga. Ia menjadi pemain basket putri andalan sekolah. Selalu memenangkan kompetisi atau sekedar menjadi juara favorit dalam tiap perlombaan. Tidak repot dan ramah. Tetapi sangat sensitif.

“Aku malas mentraktir kalian. Kalian tidak pernah mentraktir ku.”

“Siapa suruh kau menang terus? Hahaha.”, sergah ku. Hyora membuat muka masam kemudian meneguk minumannya.

“Ada gosip apa dong, aku bosan tidak ada cerita.”, keluh Taerin.

“Oya, kau bilang kau ingin menceritakan sesuatu tadi di kelas. Cerita apa sih?”, tanya Chunsa padaku.

Aku berpikir sejenak. Aku tidak yakin cerita ini seru. Taerin mengeluhkan soal cerita, tapi lebih kepada gosip. Sedangkan cerita ku ini sama sekali bukan gosip.

“Tidak yakin ini cerita yang mau kalian dengar sih, cuma –“

“SSSTT!”

Aku berhenti sejenak karena kaget Seoyul tiba tiba mengeluarkan suara agar kami semua diam. Kami semua menatapnya namun tatapan Seoyul bukanlah pada kami berempat. Seoyul melihat jauh kedepan. Kepalanya kemudian bergerak kearah kiri dan terus seperti mengikuti arah orang yang sedang berjalan. Akhirnya Taerin lah yang ikut melihat kearah Seoyul melihat, begitupun yang lain termasuk aku. Aku tidak melihat siapa siapa.

“Siapa sih?”, tanya Taerin.

“Itu yang baru saja naik shuttle.. Yang duduk dibangku ketiga..”

Kepalanya masih terus mengikuti seseorang yang ia bilang sudah naik bus shuttle, yang sekarang berbalik arah dari arah seseorang itu jalan sebelumnya. Bus shuttle terus melaju dari seberang jalan kios ku kearah kanan namun berberapa kali ku cari seseorang yang Seoyul maksud, aku tidak menemukan seseorang tersebut. Oya, aku kan belum tau ciri cirinya. Dan bus tersebut sudah tidak terlihat lagi dari depan kios ku. Taerin berlari kedepan kios untuk melihat hingga bus itu pergi.

Taerin kembali. “Seoyul-ah, siapa dan yang mana sih?”

“Ku kira kau barusan kedepan dan melihatnya..”, sahut ku pada Taerin kecewa.

“Aku tau, yang pakai sweater strip putih-abu abu pudar bukan?”, sahut Hyora.

Seoyul mengangguk. “Iya.”

“Memangnya seperti apa sih dia? Kau kenal?”, desak Taerin bertubi tubi.

Chunsa menyuap tteokboki ke mulutnya.“Yang mana sih, aku tidak tau. Tidak kelihatan.”. Ia terlihat tak peduli.

“Itu loh, yang keluar dari kios depan kios ini pas tadi sebelum ke halte bus.”, timpal Hyora.

Jelas saja Hyora ikut lihat. Ia duduk menghadap kehadapan yang sama dengan Seoyul.

“Benar kok, ia keluar dari kios depan itu. Mungkin kau kenal, Eunah?”

“Aku tidak sempat lihat juga. Tapi sepertinya tidak..”

Semuanya mendadak bingung. Atmosfernya tidak lagi ramai. Kami semua senyap. Aku mencuri pandangan ku pada Seoyul. Ia terlihat seperti orang shock. Seperti baru saja menemukan sesuatu yang ia ingin sekali temukan. Bola matanya seperti mencari cari sesuatu. Nafasnya jadi berat.

Chunsa yang menyadari situasi kami yang seperti sedang mengambang dilautan, mencoba mengirimkan sedikit gelombangnya kepada kami.

“Sudahlah tidak usah memikirkan orang itu. Tidak ada yang kenal juga. Bahkan Eunah yang depan depanan saja tidak tau.”

“Ada seorang nenek yang tinggal dikios depan itu. Ia baru pindah kemarin malam. Hanya sepasang suami istri yang mengantarnya. Kurasa itu anaknya. Dan, ya sudah dia tinggal sendiri sekarang. Jadi sepertinya tidak bareng siapa siapa.”, timpal ku.

“Mungkin tadi itu tamunya.”, sanggah Taerin.

“Lebih dekat dong, mungkin cucu nya”, ulas Hyora.

 Sekarang, aku yang jadi bingung. “Sepertinya, kemungkinan iya.”

Chunsa menepuk pundak Hyora yang membuat Hyora merasa paling tau. Sementara ku lihat Seoyul merasa tertarik dengan ucapan ‘iya-juga-ya’ nya Hyora.

“Tadi halmeoni itu nyebutin soal cucu cucu nya sih. Tapi aku tidak yakin –“

“Tolong cari tau namanya! Cari tau apapun tentang dia ya, Eunah-ah! Ku mohon pada mu.”

 

TO BE CONTINUED.

Thanks to my LINE Grupies “BINARAGAWATI

Les hari ini

Hello!

Gue hari ini les lagi lho. Tapi gak begitu berkesan pas les gitar. Kakaknya kayak males ngeladenin gue hiks.
Tapi kakak vokal dan bapak gitar klasik oke banget.

Hihi seneng jadi banyak temennya.

Gue belajar fingering lagi tadi. Duh pokoknya gue harus bisa biar lulus cepet! Aamiin.

Tadi juga jalan jalan.
Hem, terlalu banyak menghabiskan uang ckck.

Les Kemarin

Well, kemarin gue baru aja belajar musik lagi. Kali ini gue ngambil teknik vokal dan gitar elektrik. Just wow.

Kenapa?

Mungkin kalau komputer berasa di refresh lagi kali ya. Dan ngambil les ini cukup exciting!
Gue akan belajar banyak lagi tentang tangga nada dan not balok. Walau sebenernya gue benci, tapi entah kenapa gue pengen tau banget seputar itu. Bahkan ngalahin rasa penasaran gue pada akuntansi. Ga baik nih haha.

It’s okay. Everything will be okay.
As long as it’s stay in line, gon.

Gue diajarin pernapasan dalam bernyanyi dan itu membuka lebar banget mulut gue untuk bicara “Ooh gituuuu…”.
Haha norak.
Dari situ gue akan serius. Gue tau potensi gue akan mengalahkan potensi potensi lain yg sebidang sama gue. Makanya gue haruslah serius.

Oke ke gitar elektrik, gue mulai main picking. Picking pakai tangan? Biasa. Picking pake pick? NAH!
itu problem gue.

Pick yg gue pakai suka lengah dari jari jemari gue. Atau mungkin sebaliknya.
Dan mas yg ngajarin itu awesome banget. Dia bilang “Kamu masih muda, masih bisa explore lebih. Jadi ga ada salahnya kamu ngambil gitar musisi. Toh hidup hanya sebatas cari uang… Kan lumayan.”
Itu kaa taa nyaaa!
Dan bener banget.

Oke gue akan jadi song writter yg bagus dan komposer yg aduhaiii bagusnya juga. Gue penasaran, kenapa orang bule pinter banget ngulik dan bolak balikkin nada jadi bagus banget!
Itu yg bakal gue teliti, hm.

Oke doain gue semoga segalanya lancar dan AWESOME!

Aamiin YRA. Semoga kita selalu fokus :)
Bye!