My Mind’s Junks

There been something going on lately. It was never been so hard like last time since.

Gue gak pandai menulis jadi, apapun yang gue tulis disini menurut kalian gak nyambung, yaudah biarin aja. Whether I really am having a bad relationship with writings or it might be all of you who dumb as ass. I’m not gonna censor everything in here, so let me start it.

It is me or am I being too sensitive over anybody who I thought I sees them disgust me. Soalnya gue ngeliat orang nilai gue sekarang dari status yang namanya “kerja”. Semua orang seakan melihat gue murah karena gue belom dapet kerja or belom kerja. Itulah penderitaan menjadi seorang ilmuwan di Indonesia. Terasa sekali direndahinnnya.

Sekali temen pernah bilang bahwa negara kita ini emang harus diperkaya aksi, yang dia maksud adalah perbanyak praktek. Kemudian kita mengekspansi lagi maksud dia apa, dan dia bilang teori itu tidak terlalu perlu. Sedihnya, gue setuju. Bukan gue setuju saat dia bilang itu ke gue, gue sedih saat gue juga pernah merasakan dimana teori itu tidak terlalu diperlukan. Itu kejadiannya pas gue belum tau apa-apa. Belum tau kalo teori itu sangat perlu. Memang kenapa banyak yang bilang bahwa teori ga perlu, karena mereka merasa sudah bisa kemudian meninggalkan yang namanya “fondasi”. Ngertilah ya lo semua. Kalo belom ngerti, mungkin lo semua masih kayak gue dimasa gue belom ngerti apa-apa.

Pada dasarnya diperlukan teori dan pembelajaran intensif (kalau bisa) sebelum ke prakteknya. Atau ketika praktek, jangan lupakan teori juga. Ini pada latah main masuk ke lapangan aja. Alhasil apa coba? Bisa bilang ya yang kita rasakan saat ini. Negara agak ga teratur. Soalnya yang ngatur kebanyakan punya faktor yang menjauhi diri mereka dari teori, dimana yang seharusnya bisa menguatkan bidang mereka. Gue juga, sih. Dan udah banyak buktinya juga dinegara lain kalo teori itu sangat memajukan bangsa. Jadi keduanya perlu. Namun terkadang orang kita mudah melupakan fondasi ilmu dimana ilmuwan memang tidak ada harganya di negeri ini.

Contoh terdekat lah, Al-Qur’an. Ia kan berbentuk tulisan, berbentuk isi, berbentuk bacaan. Hingga surat pertama yang turun Al-Iqro which means lo semua disuruh “mbaca”. So, teori itu perlu. Jika kalian merasa kita sudah tertinggal jauh untuk memperkuat teori, man, hal terpenting adalah kita kejar biar gimana caranya bangsa kita, like all of us, bisa jauh dari yang namanya kemiskinan. Memang harta dimata orang-orang memiliki penafsiran berbeda, cuma kan kita bisa bedain mana yang hidupnya terjamin, minimal bisa lebih banyak bahagia nya ketimbang kepikiran besok mau makan-nya (yang beneran tapi, bukan kek kaum hedonisme). Nah, biar ga miskin gimana? Usaha kan?

Contoh terkecil, kita membantu para kaum tidak mampu dengan memfasilitasi pendidikan, namun memang sudah watak (naudzubillah sih) ya mereka lebih milih dikasih modal aja biar bisa langsung praktek. Gini deh, anak lagi belajar dikelas aja kalo udah ngerti satu pelajaran belum tentu bisa lulus. At least dia harus nguasain semua yang pelajaran yang menjadi standar kelulusan/prestasi disekolahnya. Dan itu juga, belum cukup. Ngerasain juga kan sist-bro?

That’s it. Kesimpulan dapat anda tarik. Whether you agreed or not, I’ll leave it to you. If you want to comment, meet me in person. Don’t comment here with all due respect.

Itu dulu deh. Gue mau S2 dulu.

 

 

 

 

Wah.

Jadi gini toh rasanya udah lulus. Bukannya ‘fuh’ tapi ‘wah’.

Wah, bingung!

AH! Gue mau kerja apa dan dimana? Mereka mau ga ya nerima gue? Kalo Kerja ini mau dikemanain muka dan nama gue? DUH!

Sulit.

TAPI, aku kudu bisa dan pasti bisa. Justru jangan menyempitkan pikiran dan hati, karena apapun bisa tercapai jika sungguh sungguh dan bissmillah.

Hey.

Hai.

Guys, gue bukannya gak tau cantik ataupun gak mau jadi cantik. It has nothing to do with me as a girl.

You know lah gue itu kayak gimana bentuknya. Tau kan? Centil iya, genit iya, manja iya, nyebelin iya, semuanya yang ada di cewe kategori ‘normal’ gue milikin semua. Begitu juga yang lain lain dan sebagainya, termasuk jadi cantik.

Cuma guys, I’ll tell you only in my point of view… cewe itu gak seharusnya tampil cantik, apalagi bersolek. Solek itu kan boleh, cuma pengertian aku hanya diperbolehkan bersolek yang wajar. Ga harus sampai bikin cowok kelepek kelepek. Emang sih, gak salah kita dong kalo ada cowok yang kelepek kelepek. Tapi inget gak sih guys kalau cewek itu harus menjaga semuanya. Sampai hal yang engga disangka-sangka yaitu menjadi incaran para pria. I don’t have any dalil for this, or at least I don’t remember but it does have, to keep yourself even in tiniest unimportant normal things that happens in your whole life, you-have-to-keep-it. It is hard I know, but how come it is hard and me as a guardian of my own body, a female that tries to keep things right isn’t as hard as you think? Terribly sorry, mind my language, but F*ck you people. Truly.

It is so damn hard. I was once told my friends, some of them, that I basically am doesn’t like to put a hijab on me. It is because I don’t like panas (we are living in a tropic country, right?), and I like myself a lot. Won’t mention in details, but I am. I am so proud of what I have physically. I mean, if a man owns me, then he’ll be the most luckiest man ever. I mean it.

And why the heck I still put em on?

Well, let’s say it is our obligation that HIJAB is mentioned in Al-Qur’an. End of it.

Pernah suatu kali lagi galau-galaunya, semacam diambang jilbab gue yang ‘udahlah dibuka aja’, gue menemukan setitik pencerahan. Makasih sinetron bulan Ramadhan, but this sinetron will be the most reliable sinetron to watch not like any others. I was illuminate by the words “Pakai jilbab itu wajib. Ga lihat sifat atau sikap orangnya. Mau bener atau ga bener kek, cewek musti pakek jilbab.” by Para Pencari Tuhan.

Dari situ I was like BIG OKAY.

Dan hal lain, kadang kita put on a makeup ga nyadar umur. Seriously, we live in a country where the people likes to copy and paste. I mean, we live in a country where the people likes to look great physically not what they have originally.

That is so pathetic to me. Well, why am I seems too care?

Well, girls, I love you. In normal and tragic way.

Mencintai jenis sendiri bukan berarti harus ikutan gerakan kewanitaan atau keperempuanan terlebih dahulu. Sharing beginian termasuk gak sih?

Gue cuma sedih ngeliat banyak wanita yang dibagusin hanya dari luar saja. Jadi kesannya cantiknya gak tulus. Cuma mau dipuja. I know girls, I desperately wants to be worshipped too, by men mostly (oops). Tapi kalian harus tau, para cowo itu bosenan loh. That which makes girls can’t have a long time relationship with men. I learnt it.

And, if you stays who you are, I know this is a very f hard thing to do, when you met who you likes but turns out to be a no answer from him, well, he is definitely not the one. Just get better, not always in makeup girls. But you can do it in your way.

The answer will not coming now but state your heart, promise that everything you do is for Allah. Just as simple as it is.

Then everything will be back to normal and you will be the most granted girl you’ve ever feel. And remember, with ikhlas. If you’re not, then you didn’t ikhlas. Be kind and Believe:)

Escape The Catastrophe

The End

Tidak ada waktu lagi.

Sekarang tanah tempat berpijak bergetar sangat hebat, gedung-gedung terlihat seperti ingin berlari dari tempatnya sebelum kemudian segalanya terlihat kabur dan berbayang. Hira tidak punya kesempatan lagi kecuali ia menyegerakan masuk ke dalam tabung besar terbuat dari metal yang sepertinya hanya muat untuk satu orang. Semua orang berteriak sejak 30 menit yang lalu. Semua orang mencoba mendapatkan tabung besar yang sama. Mereka tidak hanya berebut, tetapi melupakan orang-orang lain yang mencoba untuk menyelamatkan diri. Semua orang yang berhasil masuk ke dalam tabung ini akan tertidur pulas, dan tidak ada yang bisa membangunkan mereka, bahkan membukanya dari luar sebelum bencana dinyatakan usai oleh tabung itu sendiri. Mungkin tabung ini bisa menyelematkan manusia dari bencana terbesar yang sedang terjadi saat ini, namun, yang membuat Hira ragu untuk ikut masuk adalah tabung ini tidak sepenuhnya dapat menyelamatkan manusia yang tertidur di dalamnya. Tabung ini bisa hancur kapan saja. Hanya yang beruntunglah yang akan selamat.

Hira masih terdiam ditempatnya tepat disamping tabung besar, terlihat ragu-ragu untuk masuk. Satu-satunya yang membuat ia sadar dari keraguannya adalah suara ledakan yang besar dan untuk ketiga kalinya tanah dan lantai bergetar hebat. Sudah 3 pulau bersatu, pikirnya. Dengan penuh keyakinan palsu yang ia ciptakan di dalam raganya, Hira meraih ujung pintu tabung metal yang terasa dingin dan hendak menarik dirinya masuk dengan satu tangan tetapi terlambat. Seseorang entah darimana, muncul dari belakang punggung dengan cepat dan melesat masuk saat sebelumnya Hira di tepis hingga tersungkur ke lantai putih yang bersinar sesekali merefleksikan listrik yang redup berkedap-kedip. Hira berusaha membangunkan dirinya ditengah lantai yang sedang bergetar sangat hebat dan mencoba kembali ke tabung yang ia klaim sebagai miliknya. Ia sempat berpikir ia sudah gila karena betapa inginnya ia ikut menyelamatkan diri meski hasilnya adalah 50 banding 50. Disaat ia kembali ke muka tabung, pintu tabung ternyata sudah tertutup. Hira menjadi sangat panik, satu-satunya tabung yang ia miliki sudah terisi dan sudah tidak bisa dibuka lagi. Hira tertegun, merasa shock luar biasa. Ia terdiam lama dengan telapak tangan yang menyentuh dahinya dan mulutnya yang sedikit terbuka. Ia tidak percaya bahwa ia tidak bisa menyelamatkan diri dan akan mati ditengah kekacauan besar ini.

Rebut tabung lain!

Hira merasakan sesuatu merasukinya. Ia dirasuki keberanian untuk tetap tenang dan tetap berdiri tegak. Entah darimana asalnya perasaaan yang tiba-tiba muncul itu.

Ayo, tidak ada waktu lagi!

Hira sepintas teringat akan perkataan seseorang yang ia tahu benar adalah pencipta tabung besar ini.

Waktu untuk umat manusia seakan menipis seperti secarik kertas yang dipotong lapisannya menjadi tujuh, seperti tisu yang terkena air, merambat dengan cepat dan menghabiskan seluruh bagian badan tisu tersebut. Kapsul ini, adalah seumpamaan dari tisu tadi. Mungkin basah akan menggerogoti habis badannya tetapi, jika tisu tersebut didiamkan, maka tisu tersebut lama kelamaan akan kembali seperti semula. Kering. Tetapi jika tisu tersebut dihancurkan, maka tidak ada yang bisa dilakukan lagi untuk menyelamatkan tisu tersebut.

Hira merasa horor. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Hira, ada yang spesial dari dirimu. Kamu berbeda dari orang-orang lain. Semua terkena radiasi, bahkan diriku, dan dirimu tidak. Entah apakah kau imun atau bagaimana, yang jelas… radiasi tersebut justru membuat kamu menjadi manusia tercerdas dan itu terbukti. Dan kau tidak bisa menyangkalnya.

Hira mendengar dengung entah berasal dari telinganya atau dari dalam otaknya. Ia mencoba bangkit dan berlari mencari sesuatu yang sekiranya dapat menyelamatkan dirinya sekarang juga.

Kapsul ini… Erapsule, adalah sebuah kapsul yang setidaknya dapat menyelamatkan umat manusia dari kehancuran dunia, tetapi… aku masih tidak tahu pasti persentase keselamatan yang bisa ku jamin untuk semua orang, termasuk kita. Dan jika memang bencana terbesar sedang dalam perjalanannya mengetuk pintu bumi, maka disaat itu kamu harus benar-benar bersiap, Hira. Apapun yang terjadi, aku akan menyelamatkan kamu dan anak ku. Kalian berdua anti-radiasi harus ku akui, dan kalian harus selamat. Aku tidak tahu dengan negara lain apakah mereka memiliki orang-orang yang anti-radiasi seperti kalian, namun yang ku tahu kalian justru diburu untuk dimusnahkan. Ada beberapa orang yang percaya bahwa bumi memang sudah seharusnya hancur dan tidak menyisakan satu orang pun untuk hidup.

Hira mendengar tembakan ditengah-tengah pelariannya keluar dari ruangan tempat tersedianya tabung-tabung besar atau yang disebutkan sebagai Kapsul. Ia tidak sempat menoleh untuk melihat karena ia terlalu takut akan dirinya yang tidak akan selamat. Ia mengasumsikan semua orang sekarang sudah kehilangan akal sehatnya. Termasuk dirinya.

Hira berlari tidak tentu arah, tetapi sesuatu di dalam pikirannya telah terekam setiap sudut gedung ini, setiap ruangan, setiap bagian, semuanya. Semua ingatan tersebut muncul begitu saja di dalam benaknya tanpa ia sadari. Ia menuju suatu ruangan di lantai yang sama, ia berbelok ke kiri menuju suatu jalan kecil dimana temboknya terdiri dari metal silver, tidak seperti tembok dominan yang ada di dalam gedung ini. Ia mengikuti arah jalan tersebut dan melewati suatu tanda bertuliskan ‘Erapsule Room 3’ yang berada tepat disamping atas kiri. Kemudian ia berbelok ke kiri lagi dan menemukan pintu besi tebal yang terkunci.

***

Hira terdiam sejenak seperti ada kilat yang menyambar ubun-ubun kepalanya lalu turun menyayat dadanya. Ia terlalu menerima banyak kejutan hari ini. Dan di hari-hari sebelumnya. Namun ia merasa tidak ada yang bisa menghentikan dirinya sekarang, bagaimanapun dirinya harus selamat. Pintu yang ada dihadapannya ini menggunakan kunci khusus. Hira pernah melihat sebelumnya bagaimana pekerja di gedung ini membuka pintu-pintu besi tebal tersebut dengan kunci listrik. Kunci listrik tersebut dibentuk seperti tabung gelas kecil dengan ukuran ¾ dari tongkat untuk para pelari estafet. Kunci-kunci listrik tersebut mempunyai kode khusus yang akan dihantarkan oleh listrik dari kunci ke lubang kunci pintu.

Hari ini.

Aku terpapar diatas kasur. Mendongak ke langit langit.

Suasana terang sekali, saat ini jam berdetak pada angka 10:25.

Ingatan dan kenangan berkecamuk. Bercampur, mana mana yang penting dan mana mana yang tidak.

Aku melamun?

Pesawat lewat. Suaranya bertempur dengan suara AC kamar yang rusak.

Menciptakan suasana seperti dilapangan terbang.

Fuh, apa yang tengah ku pikirkan?

Begitu banyaknya deadline. Tak satupun terpikirkan. Padahal semua tergenggam dalam satu kepalan.

Tak ada yang dilaksanakan.

Aku pemikir. Setidaknya seribu bukan satu, tahu aku yang demikian.

Tapi tak satupun mengantisipasi. Namun aku bukan pemurung.

Pemurung mungkin, tapi periang bising.

Tertawa itu nikmat, namun kepalsuan itu pekat.

Kopi itu pahit, tapi enak jika seruput sedikit.

Hari ini sama. Akankah ada kejutan?

Akankah kesedihan berubah menjadi kebahagiaan?

Akankah kebiasaan berubah menjadi jarang?

Akankah kepalan akan terbuka?

Akankah bungkam akan menggila?

Akankah hari ini adalah harinya?

Akankah suatu saat adalah tepat?

Tak tahulah.

Mind if I say something?

Sedih itu…

Aku adalah salah seorang anak yang punya orang tua yang tidak bisa membaca kelebihan anaknya. Entah tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu. Ibu ku meninggal saat aku masih lulus dari bangku kelas 6 SD. Dulu ayah dan ibu ku sangat keras. Aku dilarang ini dan itu. Tidak dibelikan mainan dan jajanan dan lain lain. Namun semakin beranjak, aku semakin paham ibu dan ayah mungkin tidak memiliki uang karena memang dahulu aku hidup begitu sederhana dan harus memberi makan serta sekolah adik-adik ibu ku. Belum lagi saat itu semua orang susah, dan ayah ku lah yang paling berusaha menyembuhkan ibu ku dari sakit kanker.

Setelah ibu ku meninggal, keadaan tentu berubah. Ayah menjadi agak lembut. Namun ada saja cobaan untuk masing masing individu, antara aku dan ayah.

Aku senang menyanyi dan bermain musik jauh sebelum aku masuk TK, intinya sudah dari kecil. Aku bahkan tidak memilih mempunyai keahlian tersebut. Masalahnya disini, aku sangat bingung menentukan siapa diri ku tetapi ayah ku justru membentukku menjadi seorang ekonom, politikus, dan filosofer. Aku sangat menyukai pelajaran IPA, bahasa Inggris, dan seni. Hingga aku SMA. Tetapi keadaan tidak pernah berubah untuk ku. Mungkin karena ayah belum meridhai maka apapun terasa sulit untuk diwujudkan. Aku bukannya tidak mau mengikuti beliau, tetapi aku sangat tidak bisa mengikuti pelajaran juga jurusan yang ia minta. Aku paham hal tersebut akan membuat ku, mungkin saja, bisa memperbaiki hidup. Tetapi bagaimana jika benar-benar tidak tertarik?

Aku tentu memiliki dasar mengapa berbicara demikian. Banyak orang yang bilang dari kalangan jurusan yang ayah minta bahwa seni itu murahan. Tidak akan ada hasilnya. Nantinya akan berhujung pada kerusakan diri. Namun jika demikian, mengapa aku tidak bisa jadi orang seni yang bersih? Banyak diantara mereka yang berhasil dibidang seni bukan karena mereka ingin rusak tapi justru ingin memajukan negara. Aku berharap dengan kontribusi seni ku, mungkin saja Indonesia akan dikenal dan disegani ‘lagi’ suatu hari nanti. Dengan artian yang baik dan benar tentunya.

Aku tidak suka mereka menyamai ku dengan orang-orang seni yang memang dalam artian ku ‘murahan’ karena setiap orang berangkat dengan niat yang berbeda-beda. Jika menakuti keesokkan hari, akan seni, kenapa ayah tidak takut akan hal-hal yang nantinya akan kotor juga seperti ekonom, politikus, dan filsuf? Percayalah, dari semua segi prediksi, matematika, bukti konkret, juga hari esok… Akan selalu ada pembuktian salah dan benar dari apa yang kita lakukan DAN kita sama sekali tidak bisa memilih kita berada disalah satunya. Jika beranggapan mana yang paling kotor dan mana yang paling bersih, juga mana yang benar dan mana yang paling salah, persentase tersebut bisa dibuktikan dari per individu yang melakukannya. Tentunya hal tersebut dapat ditepis baik dan buruk, kotor dan bersih, jika kita memiliki faktor ‘X’ sebagai pengaman. Salah satu yang aku rekomendasi ialah, orang tua.

Dan masih banyak faktor lain lagi. Menurut ku, faktor tersebut dapat diambil dari ilmu mencari pendamping hidup. Bibit, bebet, dan bobotnya. Jika semua dihitung dan menghasilkan hasil baik yang signifikan, mengapa takut? Daripada habis takut, mendingan ikut menjaga dan membantu. Itu tentu akan mengurangi kemungkinan yang kita ‘takuti’.

Dalam kondisi seperti ini, haruskah aku menyerah? Menyerah untuk mengejar ambisi dengan berbagai alasan serius yang sudah ku lakukan dan ku utarakan juga ke ayah. Atau, tidak menyerah dengan alasan yang kuat dan untuk bertahan juga? Atau menyerah itu baik?

Jika dibilang aku tidak bisa membaca situasi, aku akan mengatakan aku bisa membaca situasi. Jika dibikang aku tidak mengerti, apa sih yang tidak aku mengerti diumur 21 tahun ini? Beritahu alasan yang benar! Bukan yang dibuat-buat menjadi sangat mengerikan jika aku melakukan hal tersebut. Jika demikian, mengapa? Mengapa begitu takut? Ayah tidak bisa menjaga ku? Lalu mengapa memarahiku dan berkata aku tidak bisa apa-apa? Jika begitu terus, aku akan selamanya ‘mencintai kamar dan kasurku’. Aku akan selamanya tidur dan terkurung akan ketidaksemangatan hidup yang aku jalani. Mengapa ayah tidak bisa sedikit saja mengerti? ATAU meridhai. Ayah, kata ridha adalah do’a atas segala yang buruk akan memiliki kesempatan berubah menjadi sesuatu hal yang baik.

Aku sangat positif atas pilihanku. Dan bahkan ini adalah hal yang bertahan dan ku pertahankan sejak aku mendedikasikan diriku dikaca rias bahwa aku adalah seorang seni disaat aku yang hanya baru menduduki taman kanak-kanak. Dan apakah aku menyesal?

Aku tidak tahu aku harus menyesal, NAMUN JIKA AKU BOLEH MEMILIH, AKU SAMA SEKALI TIDAK MENGINGINKANNYA JIKA MENGETAHUI BAHWA AYAH KU SENDIRI TIDAK INGIN ANAKNYA MEMILIKI KEMAMPUAN INI. Tetapi ini adalah pemberian dari Allah. Terkadang aku pun bingung, apakah ini adalah hadiah atau justru sebuah cobaan.

Sesungguhnya aku sangat lelah, dan jangan salahkan aku jika aku adalah anak yang sensitif. Apa aku harus membuang sifat itu juga? Aku menyenangi sifat sensitif ku karena dalam bermusik aku dapat merasakannya tidak seperti orang biasa rasakan, juga aku merasakan koneksi seluruh manusia. Aku akan tau jika seseorang dalam kesulitan dan ingin dibantu meski mereka tidak mengatakannya. Pakai otak?

Aku tentu memakai otak. Aku tentu berhitung dan aku menganggap diriku pandai berhitung meski aku gagal jadi anak ‘IPA’ karena matematika sesuai rumus yang tidak pernah dipakai itu mendapatkan nilai yang rendah. Dan banyak pula diantara yang memakai otak justru menganggap diri mereka Tuhan. Itu sebabnya aku tidak setuju jika terlalu banyak menggunakan otak, juga kesensitifanku. Aku mengerti semua. Tidak boleh terlalu berlebihan.

Kemudian apa yang ayah takuti? Semua sudah dinyatakan dan aku merasa aku tidak demikian. Memang aku belum tahu sekarang, tapi… aku benar-benar mempertanyakan untuk apa ayah hadir dengan gaya militer tapi justru melarangku tumbuh dewasa? Aku bingung.

Intinya, jika semua itu salah, apakah ayah menyalahkan keberadaan ku juga? Jika aku menuruti semua perkataan ayah, apa ayah tidak sedih jika semuanya justru hancur? Jika ayah percaya diri, maka aku akan memaksakan diriku. Aku janji. Jika ayah percaya. Masalahnya, aku sungguh tidak bisa apa-apa selain seni. Aku selalu menemukan kesalahan dan ketidaknyamanan berada dalam hidup yang ayah rekomendasikan. Aku melakukan semuanya hampir seumur hidup ku, ayah. Aku harus apa? Aku sungguh tidak meminta ayah untuk menyerah jika membaca pernyataan ku ini, jika saja satu. Ayah percaya akan pilihan ayah yang ayah paksa pada ku, aku akan benar-benar berusaha dan mencintainya.